
Malu dan takut karena sebuah kegagalan diakui atau tidak sudah terlalu lama mengungkung dan menjadi dinding pembatas untuk maju bagi kebanyakan orang. Cara berpikir seperti itu sebenarnyalah yang menjadikan tindakan kontra produktif makin tumbuh subur dan sangat merugikan. Kebiasaan menyimpan perasaan malu dan takut karena gagal biasanya dipicu oleh faktor internal yakni self esteem yang rendah. Hal ini semakin menjadi-jadi karena banyak dipengaruhi oleh pemahaman kebanyakan masyarakat kita yang sempit menyimpulkan arti berusaha sehingga memandang kegagalan itu seperti layaknya sebuah dosa yang harus dihindari dan harus disembunyikan rapat-rapat. Sehingga wajar jika kebanyakan orang masih tetap menyimpan perasaan takut dan malu untuk gagal karena kekuatiran tidak akan ada tempat lagi buat dirinya. Saat ini tiba waktunya bagi kita untuk mendobraknya, cukup mendobraknya saja, tidak perlu dihancurkan. Karena tetap saja kita memerlukan perasaan takut dan malu sebagai action controlling agar setiap tindakan kita tetap terarah dan tidak malah membahayakan.

