
Malu dan takut karena sebuah kegagalan diakui atau tidak sudah terlalu lama mengungkung dan menjadi dinding pembatas untuk maju bagi kebanyakan orang. Cara berpikir seperti itu sebenarnyalah yang menjadikan tindakan kontra produktif makin tumbuh subur dan sangat merugikan. Kebiasaan menyimpan perasaan malu dan takut karena gagal biasanya dipicu oleh faktor internal yakni self esteem yang rendah. Hal ini semakin menjadi-jadi karena banyak dipengaruhi oleh pemahaman kebanyakan masyarakat kita yang sempit menyimpulkan arti berusaha sehingga memandang kegagalan itu seperti layaknya sebuah dosa yang harus dihindari dan harus disembunyikan rapat-rapat. Sehingga wajar jika kebanyakan orang masih tetap menyimpan perasaan takut dan malu untuk gagal karena kekuatiran tidak akan ada tempat lagi buat dirinya. Saat ini tiba waktunya bagi kita untuk mendobraknya, cukup mendobraknya saja, tidak perlu dihancurkan. Karena tetap saja kita memerlukan perasaan takut dan malu sebagai action controlling agar setiap tindakan kita tetap terarah dan tidak malah membahayakan.
Segala hal yang inspiring dan
opened way of thinking yang diberikan rutin oleh atasan kepada bawahan
misalnya, sebenarnya sangat efektif untuk menumbuhkan penghargaan atas diri
setiap bawahannya. Akan sangat terasa perbedaannya jika hal-hal yang inspiring
itu selalu diberikan oleh atasan kepada bawahan daripada yang tidak. Semangat
berkompetisi dan produktivity yang tinggi juga sehat akan sangat jelas terlihat
dalam kondisi ini karena siapapun tetap akan mendukung disaat siapapun
mengalami kegagalan. Menyamakan persepsi atas kegagalan dan keberhasilan itu
membuat siapapun percaya diri atas potensi yang dimiliki karenanya tidak ada
satupun yang merasa paling baik dan lebih hebat dari lainnya karena siapapun
mempunyai kemungkinan untuk berhasil dan gagal. Disinilah sebenarnya akan
tumbuh kemampuan bagi siapapun untuk menyikapi kegagalan dengan ksatria dan
menyikapi kesuksesan secara elegant.
Saya sempat terkesan dengan
seorang relasi atas usahanya mengirimkan artikel yang inspiring buat bawahannya
di setiap Senin pagi baik itu yang ditulisnya sendiri ataupun sekedar
meneruskan dari artikel yang selalu disebutkan dari mana sumbernya. Suatu kali
dia menuliskan tentang bagaimana melampaui keterbatasan yang dipersonifikasikan
melalui kutu anjing dan kotak korek api. Dikisahkan bahwa kutu anjing
sebenarnya diberi kemampuan bisa melompat 300 lebih tinggi dari tubuhnya
sendiri hanya saja karena kotak korek api mengungkungnya, akhirnya dia hanya
bisa melompat setinggi kotak korek api. Sekali melompat dia kebentur dinding
kotak korek api, melompat lagi dia kebentur lagi, begitu seterusnya. Akhirnya
dia sendiri pun terus melegitimasi bahwa hanya setinggi itulah sebenarnya saya
bisa melompat dan seterusnya terstruktur pola yang salah dengan ukuran kondisi
aman agar tidak terbentur dinding kotak korek api.
Dari cerita tersebut relasi saya
itu hanya ingin menyampaikan maksudnya bahwa banyak sekali kotak korek api
disekitar kita. Bisa jadi mungkin kotak korek api itu adalah teman kerja yang
selalu bilang, buat apa kerja keras, disiplin dan lain sebagainya toh hal itu
tidak lantas membuat kita dipromosikan dan lain sebagainya. Kemudian
diceritakan juga bagaimana orang-orang sukses yang dulunya pernah juga gagal
bahkan berkali-kali gagal sampai akhirnya berhasil. Tak heran jika dia
mempunyai bawahan yang revolusioner dalam arti welcome terhadap perubahan ,
kompetitif karena tidak lagi takut gagal dan selalu memberikan
terobosan-terobosan dalam pekerjaannya.
Seorang teman yang pernah mempunyai prospek
penjualan sebuah produk senilai 14 Miliar setahun hanya untuk 1 customer pernah
bercerita kepada saya. Dia berniat melakukan revolusi kecil-kecilan agar setiap
orang diperusahaan dia bekerja bisa lebih menghargai proses tidak melulu hasil
akhir entah itu kalah atau menang. Dia sudah buang jauh-jauh perasaan malu juga
takut seumpama dia gagal. Dia hanya ingin menunjukkan bagaimana seharusnya
seseorang itu menghadapi dan menyikapi kegagalan ataupun kesuksesan secara
elegant. Karenanya dia berniat untuk menulis secara berseri usahanya itu dari
nol sampai dia sendiri tahu apakah akan gagal ataukah deal dalam prospek itu
dan akan dikirimkan untuk buletin perusahaan.
Ini bukan soal kalah dan menang
dia bilang. Jika soal kalah dan menang, tentunya saya tak akan mengirimkan
tulisan disaat saya sendiri belum tahu apakah akan dapat atau tidak. Karena
lebih gampang menuliskan keberhasilan yang sudah kita peroleh daripada sesuatu
yang pure based on true story dan saya sendiri belum tahu endingnya. Jika dalam
bahasan marketing ada istilah perpindahan nilai atas usaha yang dilakukan,
sebenarnya itulah yang sedang ingin saya bagikan bukan soal ending namun
lebih-lebih spirit, motivasi, bagaimana menyikapi kegagalan, bagaimana
seharusnya menunjukkan keberhasilan dan ajakan membuang rasa takut dan malu
atas kegagalan bagi rekan-rekan. Two thumbs buat teman saya itu
Takut dan malu jika gagal akan
membuat kita pasif, membunuh kretifitas dan potensi yang kita miliki sehingga
akan membuat kita tergeser dan tidak akan ada tempat lagi. Saat inilah waktunya
bagi kita untuk lebih berani, karena yang lebih penting bagaimana kita
menikmati prosesnya dan lupakan mengkuatirkan soal kalah dan menang. “Bukankah
kemenangan itu hanya sesuatu dan bukan segalana”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar